Bagi mahasiswa keperawatan, mendengar kata “Askep” atau Asuhan Keperawatan mungkin sudah menjadi makanan sehari-hari. Meski begitu, bagi mahasiswa baru, cara membuat askep yang benar seringkali terasa membingungkan karena banyaknya tahapan dan format yang harus mereka ikuti.
Padahal, Asuhan Keperawatan adalah jantung dari profesi perawat. Ini adalah metode sistematis yang akan terus Anda gunakan saat praktik di rumah sakit nanti. Oleh karena itu, di artikel AskepMed.com kali ini, kita akan membahas cara membuat askep secara terstruktur, lengkap dengan contoh kasus nyata dan perbedaan istilah yang sering membingungkan mahasiswa baru.
Apa Itu Asuhan Keperawatan (Askep)?
Secara sederhana, Asuhan Keperawatan adalah proses pemecahan masalah yang perawat gunakan untuk mengidentifikasi dan menangani masalah kesehatan pasien. Tujuannya bukan untuk menyembuhkan penyakit — sebab itu ranah medis/dokter — melainkan untuk merawat respons pasien terhadap penyakit yang mereka alami.
Ingat, bahwa proses ini bersifat siklik dan berkelanjutan, bukan sekali jadi. Selama pasien masih dalam perawatan, perawat akan terus mengulang tahapan pengkajian, evaluasi, dan penyesuaian rencana sesuai perkembangan kondisi pasien.
5 Langkah Cara Membuat Askep yang Wajib Dikuasai

Dalam praktiknya, cara membuat askep mengikuti lima tahapan baku yang harus Anda lakukan secara berurutan:
1. Pengkajian (Assessment)
Pertama, ini adalah tahap pengumpulan data awal. Anda harus mengumpulkan informasi komprehensif tentang pasien lewat wawancara (anamnesa), pemeriksaan fisik, dan rekam medis. Selanjutnya, Anda akan membagi data ini menjadi dua jenis:
- Data Subjektif: apa yang pasien rasakan dan katakan (misalnya: “Suster, perut saya terasa perih”).
- Data Objektif: apa yang Anda lihat dan ukur sendiri (misalnya: tekanan darah 120/80 mmHg, wajah pasien tampak meringis).
2. Diagnosa Keperawatan
Setelah Anda mengumpulkan data, langkah berikutnya adalah merumuskan masalahnya. Perlu diingat, diagnosa keperawatan berbeda dengan diagnosa medis. Jika dokter mendiagnosa “Gagal Jantung”, perawat justru mendiagnosa dampaknya, seperti “Penurunan Curah Jantung” atau “Pola Napas Tidak Efektif”. Untuk itu, gunakan buku panduan resmi seperti SDKI terbitan PPNI atau NANDA International — lihat perbandingan keduanya di bagian bawah artikel ini.
3. Intervensi (Perencanaan)
Pada tahap ini, Anda menyusun rencana tindakan untuk mengatasi diagnosa keperawatan di atas. Apa tujuan yang ingin dicapai? Tindakan apa yang akan Anda lakukan? Tulis semuanya secara spesifik, terukur, dan sertakan target waktu — misalnya “nyeri berkurang dari skala 7 menjadi 3 dalam waktu 1×24 jam”.
4. Implementasi (Tindakan)
Kemudian, inilah aksi nyata dari rencana yang sudah Anda susun di tahap intervensi. Jangan lupa mendokumentasikan setiap tindakan yang Anda lakukan kepada pasien secara real-time, sebab dokumentasi ini akan sangat menentukan kualitas evaluasi di tahap berikutnya.
5. Evaluasi
Terakhir, Anda perlu menilai apakah tindakan (implementasi) yang sudah Anda lakukan berhasil mencapai tujuan (intervensi). Umumnya, evaluasi memakai format SOAP:
- S (Subjective): respon verbal pasien setelah tindakan.
- O (Objective): hasil pengamatan atau pengukuran objektif yang Anda catat.
- A (Assessment): kesimpulan apakah masalah teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi.
- P (Planning): rencana tindak lanjut — lanjutkan intervensi, hentikan, atau modifikasi.
Contoh Kasus Cara Membuat Askep secara Ringkas
Agar Anda lebih mudah memahaminya, berikut contoh singkat penerapan kelima tahapan di atas pada kasus fiktif untuk latihan mahasiswa (bukan panduan tindakan klinis langsung ke pasien nyata).
Kasus: Tn. A, 45 tahun, masuk ruang rawat dengan keluhan nyeri ulu hati.
- Pengkajian — Data Subjektif: pasien berkata “perut saya perih sejak semalam, terutama setelah makan.” Data Objektif: skala nyeri 6/10, wajah tampak meringis, TD 130/85 mmHg, nadi 92x/menit.
- Diagnosa Keperawatan — Nyeri Akut berhubungan dengan iritasi mukosa lambung, dibuktikan dengan keluhan nyeri skala 6 dan ekspresi wajah meringis.
- Intervensi — Tujuan: nyeri berkurang dari skala 6 menjadi 3 dalam 1×24 jam. Rencana: kaji skala nyeri berkala, edukasi pola makan, kolaborasi pemberian antasida sesuai instruksi dokter.
- Implementasi — Anda mengkaji nyeri tiap 4 jam, memberi edukasi menghindari makanan pedas/asam, dan mencatat pemberian obat.
- Evaluasi (SOAP) — S: pasien merasa nyeri berkurang. O: skala nyeri turun jadi 3/10, wajah lebih rileks. A: masalah teratasi sebagian. P: lanjutkan edukasi pola makan dan monitoring skala nyeri.
Dengan kata lain, contoh ini hanya kerangka dasar. Dalam praktik nyata, kedalaman pengkajian dan intervensi harus jauh lebih lengkap sesuai kondisi pasien sebenarnya.
Untuk contoh yang lebih lengkap dan realistis baca: Contoh Askep Gangguan Pernapasan Lengkap.
SDKI vs NANDA dalam Cara Membuat Askep: Apa Bedanya?
Banyak mahasiswa baru bingung buku panduan mana yang harus mereka pakai saat merumuskan identifikasi masalah keperawatan. Berikut perbedaan singkatnya:
| Aspek | SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) | NANDA (North American Nursing Diagnosis Association) |
|---|---|---|
| Penerbit | PPNI — Persatuan Perawat Nasional Indonesia | NANDA International |
| Konteks | Menyesuaikan kondisi & budaya kesehatan Indonesia | Berbasis konteks keperawatan Amerika Utara |
| Pasangan penggunaan | Berpasangan dengan SLKI (luaran) dan SIKI (intervensi) | Berpasangan dengan NOC (luaran) dan NIC (intervensi) |
| Status di Indonesia | Standar resmi — institusi pendidikan & rumah sakit di Indonesia merekomendasikannya | Referensi tambahan yang mahasiswa sering pelajari sebagai pembanding akademik |
Kesimpulan praktis: untuk mahasiswa keperawatan di Indonesia, jadikan SDKI-SLKI-SIKI acuan utama saat menyusun Askep. Sebaliknya, posisikan NANDA-NOC-NIC sebagai referensi tambahan, atau gunakan saat institusi Anda secara khusus memintanya.
Baca selengkapnya: SDKI vs NANDA: Panduan Lengkap untuk Mahasiswa.
Kesalahan Umum saat Membuat Askep bagi Mahasiswa Baru
- Copy-paste Askep dari kakak tingkat tanpa menyesuaikannya dengan kondisi pasien yang sebenarnya berbeda-beda.
- Mencampur diagnosa medis dengan diagnosa keperawatan — ingat, perawat menangani respons pasien, bukan penyakitnya secara langsung.
- Intervensi tidak terukur, misalnya hanya menulis “kurangi nyeri pasien” tanpa target waktu dan skala yang jelas.
- Lupa mendokumentasikan implementasi secara real-time, sehingga catatan menjadi tidak akurat saat evaluasi.
Singkatnya, keempat kesalahan ini paling sering menurunkan nilai praktik mahasiswa baru — jadi pastikan Anda menghindarinya sejak awal.
FAQ Seputar Cara Membuat Askep
Diagnosa medis fokus pada penyakit itu sendiri (misalnya “Gagal Jantung”), dan dokter yang menetapkannya. Sebaliknya, diagnosa keperawatan fokus pada respons pasien terhadap penyakit tersebut (misalnya “Penurunan Curah Jantung”), dan perawat yang merumuskannya.
SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Planning) adalah format standar untuk mendokumentasikan tahap evaluasi. Anda memakainya setelah melakukan tindakan keperawatan, untuk menilai apakah tujuan sudah tercapai.
Boleh, sebagai bahan belajar untuk memahami format dan struktur. Namun, jangan menyalinnya langsung — sebab setiap pasien punya data pengkajian yang unik, sehingga Anda tetap harus menyesuaikan identifikasi masalah dan intervensinya.
Sebagian besar institusi pendidikan dan rumah sakit di Indonesia kini mengacu pada SDKI-SLKI-SIKI sebagai standar resmi. Meski begitu, beberapa dosen masih meminta referensi NANDA untuk pembelajaran akademik, jadi sesuaikan dengan ketentuan kampus Anda.
Bagi mahasiswa baru, menyusun satu Askep lengkap (5 tahapan) biasanya membutuhkan waktu 2-4 jam, tergantung kompleksitas kasus — terutama saat Anda masih belajar merumuskan diagnosa dan intervensi yang tepat.
Kesimpulan: Cara Membuat Askep yang Baik dan Benar
Pada akhirnya, cara membuat askep yang baik membutuhkan ketelitian dan latihan berulang-ulang. Kuncinya adalah menguasai patofisiologi dasar dan rajin membaca buku panduan standar keperawatan seperti SDKI, SLKI, SIKI, atau NANDA, NIC, NOC. Terpenting, jangan pernah copy-paste Askep secara buta, karena kondisi setiap pasien selalu unik.
Referensi & Bacaan Lanjutan:
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) — Buku Standar Keperawatan (SDKI, SLKI, SIKI).
- Buku Ajar Fundamental Keperawatan.
- NANDA International, Inc. — Nursing Diagnoses.
Penafian (Disclaimer): Informasi dalam artikel ini murni untuk tujuan edukasi dan referensi pembelajaran mahasiswa keperawatan, termasuk contoh kasus yang bersifat fiktif untuk latihan. Artikel ini bukan panduan tindakan medis atau klinis langsung ke pasien tanpa pengawasan profesional (Clinical Instructor). Selalu patuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) di institusi atau rumah sakit masing-masing.