Gangguan pernapasan seperti PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik), asma, dan pneumonia adalah kasus yang paling sering Anda temui saat praktik klinik keperawatan. Karena itu, memahami contoh askep gangguan pernapasan secara utuh — bukan sekadar teori — akan sangat membantu Anda menyusun dokumentasi keperawatan yang tepat di lapangan.
Sebelum masuk ke studi kasus ini, sebaiknya Anda memahami dulu kerangka dasarnya di artikel Cara Membuat Askep untuk Mahasiswa Baru, karena artikel ini akan langsung mempraktikkan lima tahapan tersebut pada satu kasus nyata.
Kasus: Pasien dengan PPOK Eksaserbasi Akut
Identitas Pasien (fiktif untuk pembelajaran): Tn. B, 62 tahun, perokok aktif selama 30 tahun, dirujuk ke IGD dengan sesak napas yang memberat sejak 2 hari terakhir.
Keluhan Utama: Sesak napas, batuk berdahak kental berwarna kuning kehijauan, dan badan terasa lemas.
Riwayat Penyakit: Pasien memiliki riwayat PPOK sejak 5 tahun lalu dan rutin kontrol, namun 3 hari terakhir berhenti minum obat karena merasa “sudah agak enakan”.
Pengkajian (Assessment) Lengkap
Pertama, mari kita lihat data yang perawat kumpulkan saat pasien tiba di IGD.
Data Subjektif
- “Saya sesak sejak dua hari ini, tambah berat kalau saya jalan ke kamar mandi.”
- “Dahak saya kental dan susah keluar, warnanya kuning kehijauan.”
- “Saya jadi lemas, makan juga tidak nafsu karena sesak terus.”
- “Saya berhenti minum obat sejak 3 hari lalu, soalnya merasa sudah agak enakan.”
Data Objektif
| Pemeriksaan | Hasil |
|---|---|
| Kesadaran | Compos mentis, tampak gelisah |
| Frekuensi napas | 28x/menit, dangkal, menggunakan otot bantu napas |
| Saturasi oksigen (SpO2) | 89% tanpa oksigen tambahan |
| Suara napas | Ronkhi di kedua lapang paru |
| Tekanan darah | 138/88 mmHg |
| Nadi | 104x/menit |
| Suhu | 37,6°C |
| Postur | Duduk membungkuk ke depan (posisi tripod) |
| Warna kulit/bibir | Sedikit sianosis di ujung bibir |
Selain itu, hasil pemeriksaan penunjang menunjukkan analisa gas darah dengan PaCO2 meningkat dan PaO2 menurun, sejalan dengan gambaran klinis eksaserbasi PPOK.
Analisa Data
Setelah data terkumpul, langkah berikutnya adalah menganalisis dan mengelompokkannya menjadi masalah keperawatan:
| Data (Subjektif & Objektif) | Masalah Keperawatan | Kemungkinan Penyebab |
|---|---|---|
| Sesak, RR 28x/menit, otot bantu napas, posisi tripod | Pola Napas Tidak Efektif | Hiperventilasi akibat penyempitan jalan napas |
| Dahak kental sulit keluar, ronkhi | Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif | Penumpukan sekret di jalan napas |
| SpO2 89%, sianosis, PaO2 menurun | Gangguan Pertukaran Gas | Ketidakseimbangan ventilasi-perfusi |
| Lemas, nafsu makan turun | Intoleransi Aktivitas | Ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen |
Diagnosa Keperawatan (Prioritas sesuai SDKI)
Berdasarkan analisa data di atas, berikut diagnosa keperawatan yang perawat susun sesuai SDKI, diurutkan dari prioritas tertinggi:
- Pola Napas Tidak Efektif berhubungan dengan hiperventilasi, dibuktikan dengan frekuensi napas 28x/menit dan penggunaan otot bantu napas.
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif berhubungan dengan penumpukan sekret, dibuktikan dengan dahak kental dan suara napas ronkhi.
- Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi, dibuktikan dengan SpO2 89% dan sianosis.
- Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai oksigen, dibuktikan dengan keluhan lemas dan penurunan nafsu makan.
(Catatan: Anda juga bisa merumuskan diagnosa yang sama menggunakan NANDA International jika institusi Anda memintanya — istilahnya serupa, hanya kode dan bahasanya berbeda.)
Intervensi (Perencanaan) untuk Setiap Diagnosa
Selanjutnya, Anda menyusun rencana asuhan untuk tiap diagnosa. Berikut contohnya untuk dua diagnosa prioritas utama:
Diagnosa 1: Pola Napas Tidak Efektif
- Tujuan (Kriteria Hasil/SLKI): Frekuensi napas kembali ke rentang normal (16-20x/menit) dan pasien tidak lagi menggunakan otot bantu napas dalam waktu 3×24 jam.
- Intervensi (SIKI):
- Monitor frekuensi, irama, dan kedalaman napas tiap 2-4 jam.
- Atur posisi semi-fowler atau fowler untuk memaksimalkan ekspansi paru.
- Ajarkan teknik pernapasan pursed-lip breathing.
- Kolaborasi pemberian terapi oksigen dan bronkodilator sesuai instruksi dokter.
Diagnosa 2: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Tujuan (Kriteria Hasil/SLKI): Jalan napas paten, dahak dapat dikeluarkan, dan suara napas tambahan berkurang dalam waktu 2×24 jam.
- Intervensi (SIKI):
- Monitor suara napas dan karakteristik sekret.
- Ajarkan dan dampingi teknik batuk efektif.
- Anjurkan asupan cairan hangat yang cukup untuk mengencerkan sekret.
- Kolaborasi pemberian mukolitik/ekspektoran sesuai instruksi dokter.
Implementasi (Tindakan Nyata)
Berikut contoh dokumentasi implementasi untuk shift pertama (jam 08.00-14.00):
| Jam | Tindakan | Dokumentasi Respon Pasien |
|---|---|---|
| 08.15 | Mengatur posisi semi-fowler | Pasien mengatakan sedikit lebih nyaman |
| 08.30 | Memasang oksigen nasal kanul 3 lpm sesuai instruksi dokter | SpO2 naik menjadi 93% |
| 09.00 | Mengajarkan teknik pursed-lip breathing | Pasien mampu mengikuti, RR turun jadi 24x/menit |
| 10.00 | Mendampingi latihan batuk efektif | Dahak berhasil keluar, warna tetap kuning kehijauan |
| 12.00 | Kolaborasi pemberian bronkodilator nebulisasi sesuai instruksi dokter | Pasien mengatakan napas terasa lebih lega |
Catatan: setiap tindakan wajib Anda dokumentasikan secara real-time, bukan Anda ingat-ingat lalu Anda tulis belakangan — sebab akurasi catatan inilah yang menjadi dasar evaluasi.
Evaluasi (Format SOAP)
Setelah 3×24 jam perawatan, berikut contoh evaluasi untuk diagnosa prioritas pertama:
- S: Pasien mengatakan sudah tidak terlalu sesak, hanya sedikit lelah setelah berjalan ke kamar mandi.
- O: RR 20x/menit, tidak lagi menggunakan otot bantu napas, SpO2 96% tanpa oksigen tambahan.
- A: Masalah Pola Napas Tidak Efektif teratasi.
- P: Hentikan intervensi terkait pola napas, lanjutkan monitoring rutin sebelum pasien pulang.
Dengan cara yang sama, Anda mengevaluasi ketiga diagnosa lainnya satu per satu hingga seluruh kriteria hasil tercapai atau pasien dipulangkan dengan edukasi lanjutan.
Download template Askep Docx, tinggal isi. Klik tombol Unduh.
FAQ Seputar Contoh Askep Gangguan Pernapasan
Karena berdasarkan hierarki kebutuhan dasar, jalan napas dan pola napas yang efektif adalah fondasi sebelum masalah pertukaran gas bisa membaik. Selain itu, tanda klinis pola napas (RR 28x/menit, otot bantu napas) lebih mendesak untuk segera ditangani.
Tidak. Posisi tripod adalah posisi pasien duduk membungkuk bertumpu pada kedua tangan, biasanya muncul spontan saat pasien sesak berat. Sementara semi-fowler adalah posisi terapeutik yang perawat atur (kepala tempat tidur dinaikkan 30-45 derajat) untuk membantu ekspansi paru.
Sebaiknya tidak. Gunakan contoh ini untuk memahami alur berpikir dan format penulisannya saja. Data pengkajian pasien Anda di lahan praktik pasti berbeda, sehingga diagnosa, intervensi, dan evaluasinya juga harus Anda sesuaikan dengan kondisi pasien yang sebenarnya.
Kesimpulan
Melalui contoh askep gangguan pernapasan di atas, Anda bisa melihat bagaimana lima tahapan proses keperawatan — mulai dari pengkajian sampai evaluasi — diterapkan secara konkret pada kasus PPOK. Jika Anda belum familiar dengan konsep dasarnya, kembali dulu ke artikel Cara Membuat Askep untuk Mahasiswa Baru sebelum mencoba menyusun Askep untuk kasus gangguan pernapasan lain seperti asma atau pneumonia.
Referensi & Bacaan Lanjutan:
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) — SDKI, SLKI, SIKI.
- NANDA International, Inc. — Nursing Diagnoses.
- Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah: Gangguan Sistem Pernapasan.
Penafian (Disclaimer): Kasus dalam artikel ini bersifat fiktif dan ditujukan murni untuk tujuan edukasi mahasiswa keperawatan. Artikel ini bukan panduan tindakan medis atau klinis langsung ke pasien tanpa pengawasan profesional (Clinical Instructor/perawat penanggung jawab). Selalu patuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) di institusi atau rumah sakit masing-masing.